Pulau Derawan, 14 Mei 2026 – Bagaimana sebuah pulau kecil yang menjadi destinasi wisata unggulan mampu mengelola sampahnya di tengah tingginya aktivitas masyarakat dan kunjungan wisatawan? Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu fokus pembelajaran KPNA Tanah Rata, Fitra La Djaharia, saat mengunjungi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Kampung Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Plastic Smart Islands Learning Exchange yang diselenggarakan oleh WWF Indonesia dan diikuti peserta dari Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Melalui kegiatan ini, para peserta diajak melihat secara langsung berbagai praktik pengelolaan sampah yang diterapkan di pulau-pulau kecil yang menghadapi tantangan serupa dalam menjaga kebersihan lingkungan dan ekosistem laut.
Pulau Derawan dipilih sebagai salah satu lokasi pembelajaran karena dikenal sebagai destinasi wisata unggulan di Kalimantan Timur sekaligus bagian dari kawasan konservasi laut yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Sebagai pulau kecil yang menjadi tujuan wisata, Derawan menghadapi tantangan besar dalam mengelola sampah yang dihasilkan oleh aktivitas masyarakat maupun wisatawan.
Di TPS3R Kampung Pulau Derawan, peserta melihat secara langsung alur pengelolaan sampah mulai dari pengumpulan, pemilahan, hingga proses pengolahan. Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dipisahkan untuk didaur ulang atau dimanfaatkan kembali, sementara sampah lainnya dikelola agar tidak berakhir mencemari lingkungan dan laut.
Selain meninjau fasilitas, peserta juga berdialog dengan pengelola dan pihak terkait mengenai berbagai strategi yang diterapkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah sejak dari sumbernya.
Bagi KPNA Tanah Rata, kunjungan ini menjadi kesempatan berharga untuk mempelajari bagaimana sebuah pulau kecil dapat membangun sistem pengelolaan sampah yang melibatkan masyarakat, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Fitra mengatakan bahwa pengalaman Pulau Derawan memberikan banyak pelajaran yang relevan bagi wilayah Kepulauan Banda yang juga memiliki karakteristik sebagai daerah kepulauan dan tujuan wisata.
"Kami melihat bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berbicara tentang infrastruktur, tetapi juga bagaimana membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat. Derawan menunjukkan bahwa kolaborasi yang baik dapat menjadi kunci dalam menjaga kebersihan pulau dan kelestarian laut," ujarnya.
Menurutnya, sejumlah praktik yang diterapkan di Pulau Derawan dapat menjadi inspirasi bagi upaya penguatan pengelolaan sampah di Negeri Tanah Rata. Terlebih, Banda dan Derawan sama-sama memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap sektor kelautan dan pariwisata.
Sebagai wilayah yang dikelilingi laut, persoalan sampah plastik menjadi tantangan yang dihadapi banyak pulau kecil di Indonesia. Sampah yang tidak tertangani dengan baik tidak hanya mengurangi kualitas lingkungan, tetapi juga berpotensi mengancam ekosistem laut, sektor perikanan, dan pariwisata yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Kunjungan ke TPS3R Pulau Derawan memberikan gambaran bahwa pengelolaan sampah yang efektif membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari edukasi masyarakat, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, pemilahan sampah dari rumah tangga, hingga dukungan kebijakan dan kelembagaan yang kuat.
Lebih dari sekadar kunjungan lapangan, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi para peserta untuk bertukar pengalaman dan mencari solusi bersama terhadap persoalan sampah yang dihadapi wilayah kepulauan di Asia Tenggara.
Melalui pembelajaran dari Pulau Derawan, KPNA Tanah Rata berharap dapat membawa pulang berbagai gagasan dan praktik baik yang dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi lokal di Kepulauan Banda. Dengan semangat kolaborasi dan keterlibatan masyarakat, upaya mewujudkan pulau yang bersih, sehat, dan bebas dari pencemaran sampah plastik diharapkan dapat terus diperkuat demi menjaga warisan laut dan lingkungan bagi generasi mendatang.