Tanah Rata, Banda Neira – Semangat pelestarian budaya lokal kembali bergema di Negeri Administratif Tanah Rata melalui penyelenggaraan Festival Kalabembang (30/05/2026), sebuah kegiatan budaya yang bertujuan menghidupkan kembali permainan tradisional sekaligus memperkuat kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya leluhur.
Festival yang berlangsung di Gedung Baruga Negeri Administratif Tanah Rata ini merupakan bagian dari program Revitalisasi Nilai Budaya dan Seni Tradisional Melalui Lomba Kalabembang, yang didukung oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Maluku melalui Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan.
Kalabembang merupakan permainan tradisional yang telah lama dikenal dan dimainkan oleh masyarakat Tanah Rata. Permainan ini menjadi salah satu warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun dan masih tetap hidup dalam kehidupan masyarakat hingga saat ini. Tidak hanya menjadi sarana hiburan, Kalabembang juga mengandung nilai-nilai kebersamaan, sportivitas, kerja sama, serta mempererat hubungan sosial antarwarga. Keunikan permainan ini terletak pada sifatnya yang inklusif, karena dapat dimainkan oleh semua kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Ibu Ariati, penerima manfaat Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026, sebagai bentuk upaya nyata dalam menjaga keberlanjutan tradisi budaya lokal agar tetap dikenal dan dicintai oleh generasi muda.
Festival secara resmi dibuka oleh Camat Banda, Dra. R.A. Handayani Hassannusi. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku yang terus memberikan perhatian dan dukungan kepada masyarakat Banda dalam upaya melestarikan budaya daerah.
Menurutnya, budaya merupakan identitas yang harus dijaga bersama. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat, pemerintah, lembaga pendidikan, serta generasi muda sangat penting dalam memastikan warisan budaya tetap lestari dan berkembang sesuai perkembangan zaman.
Turut hadir memberikan sambutan dan penguatan, Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku, Mezak Wakim, S.Pd., M.Si. Dalam kesempatan tersebut, beliau menjelaskan bahwa pemerintah terus berupaya memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan berbagai kegiatan kebudayaan melalui Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan.
Beliau juga mengajak komunitas budaya, sanggar seni, kelompok masyarakat, maupun individu di Kepulauan Banda untuk lebih aktif memanfaatkan berbagai program pemerintah dengan mengajukan proposal kegiatan kebudayaan. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat pelestarian budaya sekaligus mendorong lahirnya berbagai inovasi kreatif berbasis kearifan lokal.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh unsur Forkopimcam Banda, Kepala Pemerintah Negeri Administratif Tanah Rata Fitra Ladjaharia, S.P., tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, serta warga Negeri Administratif Tanah Rata yang hadir dengan penuh antusiasme.
Selain perlombaan Kalabembang, festival juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni budaya yang menampilkan kreativitas dan kekayaan tradisi masyarakat setempat. Penonton disuguhkan beragam penampilan menarik, mulai dari Tari Pajoge, diiringi dengan tabuhan gendang dan gong. Pajoge merupakan tarian tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Banda, hingga berbagai tarian kreasi yang dibawakan oleh sanggar seni dan para pelajar dari sekolah-sekolah di Negeri Administratif Tanah Rata.
Penampilan para penari muda mendapat sambutan meriah dari masyarakat yang memenuhi lokasi kegiatan. Gerakan yang indah dan penuh semangat menunjukkan bahwa generasi muda masih memiliki kepedulian dan kecintaan terhadap seni budaya daerah.
Tidak kalah menarik, festival juga menghadirkan pertunjukan pencak silat yang menampilkan ketangkasan, keberanian, disiplin, dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam seni bela diri tradisional Indonesia. Atraksi tersebut menjadi salah satu penampilan yang paling mendapat perhatian dan apresiasi dari para pengunjung.
Puncak kegiatan ditandai dengan pelaksanaan Lomba Kalabembang yang berlangsung meriah dan penuh semangat. Peserta dari berbagai kelompok usia mengikuti perlombaan dengan antusias, sementara masyarakat yang hadir memberikan dukungan dan sorakan yang menambah semarak suasana festival.
Melalui Festival Kalabembang 2026, masyarakat Negeri Administratif Tanah Rata tidak hanya merayakan sebuah permainan tradisional, tetapi juga merawat identitas budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan secara kreatif, melibatkan seluruh lapisan masyarakat, serta menjadi sarana memperkuat kebersamaan dan persatuan.
Diharapkan kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang sehingga permainan Kalabembang dan berbagai tradisi budaya Banda tetap hidup, berkembang, dan menjadi kebanggaan generasi masa kini maupun generasi yang akan datang.