**Banda Neira** – Econusa, bekerja sama dengan Konsorsium Banda Berbudaya, Universitas Banda Neira, dan Oceaneye, menggelar Lokakarya dan Forum Group Discussion (FGD) tentang pengelolaan sampah untuk perlindungan keanekaragaman hayati laut di Kepulauan Banda. Acara yang dilaksanakan di Kantor Camat Banda ini dihadiri oleh perwakilan dari Forkopimcam Banda, KPNA se-Kecamatan Banda, perwakilan nelayan, tokoh masyarakat, Taman Wisata Perairan (TWP) Laut Banda, kelompok masyarakat pemerhati lingkungan, serta para pemangku kepentingan lainnya.
Acara dibuka oleh Sekretaris Kecamatan Banda, Taib Selano. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kepedulian terhadap kebersihan lingkungan serta upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah kecamatan, termasuk pembebasan lahan untuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Mangkobatu.
Sebagai pembicara utama hadir Miftah Saban dari Universitas Banda Neira, Fadli dari Bank Sampah Banda, Mba Ara dari Oceaneye, dan Qadri Atamimi selaku Koordinator Econusa Maluku. Mereka menyampaikan berbagai gagasan terkait upaya menjaga kebersihan laut Banda dari ancaman sampah, terutama sampah plastik.
Dalam pemaparannya, Miftah Saban menyampaikan hasil penelitian terkait kondisi pengelolaan sampah di Banda, khususnya di Desa Nusantara. Ia menyoroti masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya serta kurangnya fasilitas tempat pembuangan sampah yang memadai.
Sementara itu, Fadli dari Bank Sampah Banda mengungkapkan bahwa jumlah sampah plastik yang dihasilkan di Banda sangat besar. Sampah ini berasal dari pembersihan laut, jalan, serta yang dikumpulkan langsung dari masyarakat. Ia berharap masyarakat dapat berperan aktif sebagai agen bank sampah untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan.
Dari pihak Oceaneye, diperkenalkan sebuah inisiatif penggalangan donasi dari wisatawan secara sukarela. Dana yang terkumpul nantinya akan dimanfaatkan untuk menjaga kelestarian laut Banda.
Para pembicara menegaskan bahwa jika sampah plastik tidak dikelola dengan baik, ekosistem laut akan terancam, bahkan dapat membahayakan biota laut. Selain itu, mereka juga menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi lingkungan saat ini yang bukan lagi sekadar perubahan iklim, melainkan telah memasuki fase krisis iklim.
Menurut Qadri Atamimi, kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari FGD sebelumnya. Ia menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh tim Econusa adalah bentuk kepedulian dan upaya nyata dalam melestarikan keanekaragaman hayati laut di Kepulauan Banda. “Laut Banda memiliki keindahan yang luar biasa, dan kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaganya bersama,” ujarnya. Sebagai hasil dari lokakarya dan FGD ini, disepakati bahwa Desa Nusantara akan dijadikan proyek percontohan (pilot project) pengelolaan sampah, yang akan mendapatkan pendampingan dari tim Econusa.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bagian dan satu upaya dalam mengatasi permasalahan sampah di Kepulauan Banda serta menjaga keanekaragaman hayati laut yang menjadi aset penting bagi masyarakat dan ekosistem global.
Artikel ini diterbitkan oleh Tim Website Desa Tanah Rata